Saturday, November 10, 2007

Kunci Hati

Telah lama, telah beberapa tahun, kukunci hati ini dan tak pernah terbuka, dan gagang pintuku tak pernah berkarat ataupun mengalami korosi sekalipun. Karena ia bukan terbuat dari besi, tapi terbuat dari gumpalan darah yang merekah tidak sempurna dalam tulang rusukku. Ia akan sempurna saat tulang-tulang rusukku telah lengkap berada dan menyatu. Kesempurnaan itu ada di dalamnya.


Aku tahu kemana harus kumenyempurnakannya, tapi kuharus menunggu, menunggu selama lebih satu dekade.


Sekarang sepuluh tahun itu telah lewat, saatnya aku menagih penantianku.


Telah kubuang semua jadwal, kucampakaan semua kesibukan, kuacuhkan semua candu, hanya ingin merangkai acara penyambutan terbukanya pintu ini. Sebenarnya tidak perlu adanya pesta atau semacam seremonial lainnya, cukup menagih, hanya itu! Tapi aku ingin menjadikan ini suatu yang sempurna karena temanya sendiri adalah “Kesempurnaan”.


Aku bukanlah lintah darat yang menagih saat para petani sedang mengalami masa paceklik, dan aku bukan tsunami saat orang-orang menikmati indahnya laut. Aku hanya menagih apa yang mereka sebut dengan “Kebahagiaan” .


Aku tahu dan sangat mengerti, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi setidaknya, berharap bisa menjadi hiburan dalam penantianku.


Akhirnya hari, jam, dan menit itu tiba. Aku tidak gugup karena aku tahu apa yang akan terjadi. Untuk apa menerka kalau sudah tahu jawabannya. Aku hanya perlu mengadakan sebuah acara yang termewah, terhangat, dan termeriah. Acara yang tidak pernah anda lihat selama ini. Acara yang hanya berlangsung beberapa detik tapi akan menjadi abadi dalam sebuah “monumen kesempurnaan” .


Hai, pintu ini tak pernah dibuka olehku atau siapapun. Dengan rasa hormat yang tinggi, bukalah pintu ini dengan kunci yang kuberikan ini.”


Wow.. begitu agungnya perkataanku. Hanya berbanding tipis dengan novel Ayat-ayat Cinta yang pernah kubaca, menang telak dengan cerpen-cerpen Arswendo Atmowiloto yang tidak pernah basa-basi mengungkapkan sesuatu. Hanya saja ini bukanlah kisah Samsul Basri dan Siti Nurbaya yang diungkapkan Marah Rusli, apalagi kisah Haji Soleh dan kakek penjaga surau seperti yang digambarkan AA Navis. Bukan itu!!!


Ini kisah nyata __ true story __ mereka bilang. Setidaknya itulah yang ada dalam benakku saat ini.


Hei, kok ga ngomong juga, sepertinya udah lama aku membungkuk badan padamu. Dan rasa pegal perlahan-lahan mengalir, capek nih...


Tapi agar tetap khusyuk, aku tetap membungkuk. Inilah bentuk hormatku padamu, walaupun sebenarnya itu adalah hakku untuk mendapatkannya.


Hmm... * berpikir dewasa *, aku tahu ini berat bagi kaum sejenismu. Dan aku rela menunggu. Mau 10 detik, 10 menit, ataupun 10 jam, asalkan bukan 10 tahun atau seperti kata-kata pejabat yang selalu bikin kesal dengan kata-kata “sampai batas waktu yang tidak ditentukan!!!”.


Saat ini lahir dan batinku telah mantap. Jadi jangan ragu lagi. Aku tidak mau berjalan di persimpangan keraguan. Aku ingin berjalan di jalan tol dengan kecepatan melebihi 120 km/jam, dan tidak akan pernah berputar.


Tunggu apalagi, bicaralah. Bicaralah seperti saat kita masih satu dekade yang lalu. Tanpa ragu dan tanpa beban, lihat mata dan dengar dari telinga. Suka dan duka berhubungan secara paralel, tapi tidak akan ada salahnya bila dirangkai seri, bukan?


Saat ini kita tidak akan pernah berpisah lagi hanya untuk membuktikan sebuah kesetiaan, sebab hal tersebut telah kulakukan. Buka pintu ini, dan kau akan melihat tidak ada tulang rusuk lain selain punyaku. Aku lelaki yang berharga diri tinggi. Kepercayaan adalah salah satu prinsip yang tertanam dalam diriku. Dan aku telah berjuang sangat keras untuk mendapatkan prinisip tersebut.


Hai... hai ...


...........................


Dulu aku selalu berjalan di sampingmu. Tidak bisa berjalan sendiri. Tapi saat ini, aku berjalan dengan semua yang ada pada tubuhku... sendiri. Bagi wanita, berjalan sendiri itu berat, tapi aku mampu memikulnya.


Meskipun begitu, aku berharap dapat berjalan lagi padamu di masa depan... “


....


Telah satu bulan berlalu, namun pintu itu masih tertutup. Kuncinya telah kukremasi, tinggal arangnya saja.


Aku tidak perlu kunci lagi, untuk membuka pintu hati ini, aku hanya tinggal mendobraknya!

1 comment:

cira said...

Freddy... keren... tak pernah ku tahu sisi cerpenis dari seorang freddy